Drop Solo | Featured

Impresi Awal Drop Solo – Lahirnya Sang Adik Kecil

Hendri Salim Atomizer 2 Comments

Saya memang sudah tidak menggunakan Drop secara rutin lagi, namun itu tidak mengubah pendirian saya terhadap Drop. Sebuah RDA pintar yang inovatif dengan flavor yang sangat enak.

Mama Drop dan Papa Drop kemudian memutuskan Drop butuh adik, dan lahirlah Drop Solo. Sebuah RDA single coil yang mengusung design Drop namun dengan satu perbedaan besar yaitu hanya adalah 1 post untuk 1 coil.

Perlu kamu ketahui bahwa saya membeli Drop Solo untuk dihadiahkan ke teman saya. Saya buka, saya build dan lalu saya pinjam sekitar 10 menit untuk menjajalnya. Kamu mungkin bertanya teman macam apa yang membuka dan mencoba hadiah sebelum memberikannya? Haha… dalam pembelaan saya, teman saya tidak doyan build, jadi saya lakukan untuk dia sekalian menulis impresi awal ini.

Drop Solo Package

Secara paket, Drop Solo terbilang lengkap dan dermawan. Kamu akan mendapatkan berbagai aksesoris, termasuk 510 drip tip adapter. Saya bilang dermawan karena mereka menyertakan cap tambahan yang terbuat dari PPMA (singkatnya plastik tahan panas) dan selain itu mereka juga menambahkan beauty ring yang terbuat dari bahan yang sama. Semua ini dalam paket berharga Rp300.000, sama sekali tidak buruk.

Beauty ring jika kamu belum tahu adalah tutup bagian bawah RDA. Ini akan mencegah gesekkan antara mod dan RDA secara langsung. Oh ya mereka juga menyertakan dua coil fused clapton.

Beauty Ring Drop Solo

Secara tampilan luar mungkin ada perubahan, namun secara prinsip Drop Solo dan Drop tetap sama. Mulai dari design air flow, tonjolan pengunci cap, bentuk deck, ya semuanya masih menggunakan prinsip yang sama.

Termasuk masalah yang sama, yaitu o-ring yang sangat ketat. Membuka Drop Solo pertama kali sangatlah sulit, dan bahkan setelah diberi sedikit eliquid bagian air flow controller masih terlalu sulit untuk di putar tanpa tenaga ekstra.

Proses memasang coil masih cukup serupa, kamu tinggal masukan coil kamu, kencangkan dan potong sisa kaki coil. Deck ini memudahkan pengguna dan masih inovatif. Namun satu hal yang berbeda adalah ketika kamu sudah memasang coil, kamu harus menariknya ke depan sehingga letak coil benar-benar berada di tengah.

Deck Drop Solo

Untuk melakukan ini kamu memerlukan coiler atau obeng dengan diameter yang pas dengan coil kamu. Karena jika kamu membengkokkan coil dengan sesuatu yang lebih kecil maka coil mungkin dapat berubah bentuk.

Setelah coil berada di tengah, kamu wick dan selesai. Satu komentar kecil saja, saya pribadi kurang suka posisi coil yang sedikit tinggi seperti Drop, karena kapas akan menjuntai ke bawah dengan panjang. Di awal-awal mungkin tidak masalah, namun seiring kapas mulai rusak karena panas dan digunakan, daya serapnya akan berkurang dan liquid akan cenderung menggumpul di bawah dan tidak mau naik. Solusinya? Sering-sering ganti kapas.

Saya menggunakan fused clapton di build pertama ini dan mendapatkan sekitar 0.35 ohm. Saya pun menarik di 50 watt dan inhale pertamapun lahir dari ujung drip tip Drop Solo.

Exhale pertama, rasa yang dihasilkan cukup okay. Saya meneteskan liquid Oriole dari Hero57. Blueberry jelas muncul dengan presentasi selai, pancake yang cukup buttery dan sedikit rasa canoli. Sebelumnya saya menghajar Oriole di Reload X dan harus saya katakan kepekatannya berbeda jauh dengan rasa pancake di Drop Solo yang cenderung malu-malu.

Tapi tentu saja ini bukan perbandingan yang adil, saya membandingkan RDA single coil dengan dual coil.

Satu hal yang mencuri perhatian saya adalah air flow dari Drop Solo. Tidak terasa smooth seperti Drop walaupun mempunyai bentuk air flow yang sama. Saya menarik belasan exhale selanjutnya memfokuskan diri kepada air flow. Selain kurang smooth (jika dibanding Drop), suaranya juga cukup berisik. Satu hal yang saya puji-puji dari Drop, sama sekali tidak ada di sini.

Exploded View Drop SOlo

Selanjutnya saya fokus ke flavor. Ya, semua profil rasa dari blueberry poffertjes tetap ada, namun saya tidak mendapatkan rasa yang penuh dan kental. Mungkin ini disebabkan oleh chamber yang terlalu besar?

Mungkin ini bisa ditangkal dengan coil yang lebih besar seperti Alien 3mm atau memasang coil dari bawah dan hanya membuka air flow bagian bawah. Namun saya tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya selama 30 menit selama kebersamaan saya bersama Drop Solo.

Saya pun menutup air flow menjadi dua lubang saja dan menaikkan watt juga, rasa meningkat. Namun air flow menjadi sedikit restricted, wajar karena saya menutup 8 lubang dari 10 lubang yang tersedia. Ini mungkin meningkatkan rasa namun air flow mungkin tidak cocok untuk semua orang.

Saya akan menyebut flavor dari Drop Solo sedikit di atas rata-rata. Kata kuncinya adalah sedikit di atas rata-rata.

Satu hal yang saya senang laporkan adalah juice well di Drop Solo sangatlah besar untuk ukuran RDA 22mm. Ditambah dengan fakta bahwa Drop Solo adalah single coil RDA maka butuh waktu yang lama sampai kamu harus menetes lagi. Ini adalah poin plus untuk Drop Solo.

Drop Solo Juice Deck

Saya pun mencoba cap PPMA yang disediakan. Cap transparan ini hanya mempunyai 6 lubang air flow berbeda dengan cap stainless steel. Selain itu cap PPMA ini lebih pendek sekali. Pengalaman inhale dan exhale sedikit berbeda, namun jujur saja saya tidak bisa menilai mana yang lebih enak. Secara teori cap PPMA ini akan lebih dingin secara jangka panjang, baik digunakan jika kamu vape seperti kereta api.

Pengalaman pertama saya dengan Drop Solo tidaklah buruk, tapi juga tidak bisa saya bilang luar biasa. Saya tidak merasa Drop Solo menambahkan sesuatu yang baru dan inovatif seperti Drop kakak besarnya ke dalam dunia RDA yang sudah padat.

Drop Solo PPMA

Tentu saja ini adalah sebuah impresi awal. Dengan lebih banyak waktu saya dapat bereksperimen dengan coil yang lebih besar untuk meningkatkan rasanya. Tapi jika simple coil dan fused clapton adalah jagoan kamu maka saya rasa Drop Solo tidak akan cocok untuk kamu yang mencari flavor terbaik dari sebuah single coil RDA.

Sayangnya saya tidak akan membeli Drop Solo untuk melanjutkan dengan ulasan penuh, sorry guys. Saya akan menyimpan Rp300.000 saya untuk membeli RDA lain. Mungkin untuk RDA MTL dengan kemampuan squonk? Entahlah saya akan membiarkan semesta (dan marketing vendor vape) ini untuk memutuskannya untuk saya.

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Hendri SalimAdjie Recent comment authors

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Adjie
Guest
Adjie

Recurve udah, Drop Solo udah, tinggal ulasan DPRO Mini nih om yg belum. Beberapa temen bilang DPRO Mini much better than Recurve in flavor.
Ditunggu yah om ulasannya 🙂